Ramah Tamah Sulawesi Tengah


Perjalanan selama 2 minggu menyisir pantai dari Donggala sampai ke Luwuk di Bulan Oktober 2010 ini sangat mengesankan bagi saya. Karena pertama kalinya menginjakkan kaki di Sulawesi tentu saja ada sedikit rasa kekhawatiran terhadap perbedaan kultur yang ada.

Namun semua kekhawatiran ditepis oleh keramah tamahan seluruh masyarakat Sulawesi Tengah. Dimulai dari sambutan matahari senja di Palu, keramah tamahan masyarakat Palu ditunjukkan dengan makanannya yang beragam. Kemudian dilanjutkan dengan keramahtamahan masyarakat Donggala yang dengan baiknya bersedia mengajarkan saya menenun sarung Buya Sabe.

Poso yang merupakan kabupaten terbesar di Sulawesi Tengah dipenuhi dengan keceriaan dan kebaikan. Pengalaman yang tak terlupakan bagi saya yang tertahan di Tentena karena jalan menuju Ampana terkena longsor yang diakibatkan hujan selama 2 malam. Masyarakat Tentena yang sedang berbahagia mengadakan festival Padungku sebagai rasa syukur atas hasil panen dengan baiknya menerima saya yang bukan relasi untuk makan-makan gratis di rumahnya bahkan membawa pulang oleh-oleh dari sang tuan rumah. Segala makanan dan minuman disediakan bagi siapa saja yang mampir pada hari itu.

Lama berbincang dengan para Budayawan dan ahli sejarah di Poso sangat membuka pikiran saya tentang kekayaan masyarakat Poso. Malam hari di Tentena saya lalui dengan ajakan menari Dero bersama masyarakat Poso dari berbagai penjuru. Bergandengan tangan dengan semangat berkobar semuanya merayakan festival dengan penuh keceriaan. Sambutan yang begitu ramah itu tentu saja tidak saya sia-siakan sampai rasanya sangat berat meninggalkan Poso. Rasa penuh tanya juga ada di hati kenapa di Poso sampai bisa kerusuhan sebesar itu padahal warganya semua ramah.

Sampai di Ampana dengan kehebohan para awak kapal dan disambut Kepulauan Togean yang luar biasa menakjubkan. Bahkan Suku Bajo yang tinggal di tengah laut saja menyambut para wisatawan dengan baik. Para penduduk di Desa Katupat dan Pulau Malenge juga penuh keramahan dengan baiknya menjelaskan sejarah desa mereka. Perjalanan terus berlanjut ke Luwuk dan Banggai.

Sesampainya di Banggai setelah 8 jam perjalanan menggunakan kapal sangat melelahkan. Apalagi ditambah dengan cuaca Banggai yang panas dan gersang. Saat pergi ke masjid untuk mandi tidak ada air rasanya sangat sedih namun segera terobati oleh Ibu Hawa yang dengan baiknya menawarkan mandi di rumahnya. "Kalau main ke Banggai lagi jangan lupa mampir ke sini ya!" ucap Ibu Hawa.Detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar