Berbisnis Jamur Tiram


Suatmiati, 50 tahun, siang itu sibuk melepas karet pengikat pada ratusan log jamur tiram. Log tersebut disusun berjajar dalam dua rak kayu setinggi hampir dua meter. Pada beberapa log lain yang pengikatnya sudah dilepas, nampak tudung jamur tiram berwarna putih mulai mengembang. Tangkainya bertingkat-tingkat. "Kalau sudah mekar berarti tidak lama lagi siap panen," kata Suatmiati kepada Tempo kemarin.

Suatmiati bersama sejumlah anggota keluarganya adalah salah satu keluarga yang menggeluti bisnis jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus)) di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Dalam dua tahun terakhir, budidaya jamur tiram berskala rumah tangga menjadi trend di Banyuwangi.

Surti Handayani, 30 tahun, keponakan Suatmiati bercerita, kalau modal awal membudidayakan jamur tiram hanya sekitar Rp 15 juta. Kalau pun tak memiliki modal sebesar itu, seseorang bisa mengembangkan jamur tiram cukup di kamar mandi.

Budidaya jamur tiram ini membutuhkan media hidup dengan kelembapan suhu kurang dari 30 derajat celcius. Dia membangun sebuah rumah jamur di belakang rumahnya yang berdampingan dengan sawah, berukuran 3,5 x 5 meter. Dinding rumah terbuat dari bambu yang dipasang agak renggang untuk menunjang sirkulasi udara.

Terdapat empat rak susun di dalam rumah jamur. Rak-rak itu sebagai tempat meletakkan log. Log ini sebagai media tumbuhnya jamur tiram, berisi campuran: gergajian kayu, kapur, katul, tepung jagung, dan bibit jamur. Seluruh campuran ini ditempatkan dalam kantong plastik berukuran 3/4 kilogram. Pada ujungnya kemudian ditutup kertas koran dan diikat dengan tali karet.

Setelah log selesai dibuat, harus didiamkan dulu di rak selama 2 minggu dalam posisi berdiri. Berikutnya, posisi log ditidurkan dengan ujung log berada di tepi rak. Tali pengikat kemudian dilepas. Tujuannya, supaya benih segera mekar melalui ujung log.
Supaya jamur yang telah mekar tidak rusak oleh bakteri, setiap sore harus disemprot dengan air PAM karena lebih steril.

Jamur tiram biasanya siap panen dalam waktu 20 hari. Sekali panen bisa mencapai hingga 50 kilogram."Satu jamur beratnya bisa mencapai satu ons," ujar Surti.

Jamur-jamur yang telah dipanen biasanya ditampung oleh seorang pengepul untuk dipasarkan ke Pulau Bali. Namun, kalau panenan sedikit, biasanya cukup dijual sendiri di pasar. Harga satu kilogram jamur tiram putih ini mencapai Rp 10 ribu.

Di restoran atau rumah makan, jamur tiram putih ini biasanya diolah menjadi berbagai makanan karena mengandung protein dan vitamin yang tinggi. Krena permintaan jamur dari rumah makan sangat besar, jamur tiram ini memiliki pasar yang menjanjikan.

Karena itu, keluarga Suatmiati tak takut jamur tiramnya tak laku, Bila hasil panennya berlebih, biasanya sebagian jamur tiram diolah Surti menjadi keripik jamur. Caranya mudah, yakni jamur yang telah dipotong-potong dicuci bersih. Setelah diperas, jamur dikukus hingga lembek. Dengan adonan tepung terigu, jamur digoreng hingga renyah. Harga keripik jamur ini dibanderol Rp 500 per bungkus.

Dalam waktu setahun, bisnis jamur keluarga Suatmiati ini mulai menggeliat. Kini, mereka mengembangkan usahanya dengan menjual benih jamur dan log. Benih jamur dijual Rp 7.500 per botol. Sedangkan harga log Rp 2.000 per bungkus.

Log ini sering dipesan oleh para petani jamur tiram berskala lebih kecil. Pesanan log jamur ini juga laris manis. Selain menyuplai desa-desa sekitarnya, pelanggan Suatmiati berasal dari Jember dan Bondowoso. "Satu bulan pesanan bisa sampai 2 ribu log," kata Surti.

Surti mengaku, keuntungan bersih yang bisa dikantongi dari budidaya jamur tiram ini minimal Rp 1,5 juta per bulan. Hambatan terbesar dalam membudidayakan jamur tiram hanyalah cuaca. Saat cuaca panas, jamur pun ogah berkembang, dan otomatis hasil panenan yang didapat hanya sedikit.sources:Tempointeraktif.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar